Oleh: M. Nur Fahrul Lukmanul Khakim

Ilustrasi karya Pratiwi P. (2014)
Akhir-akhir ini, tepatnya sejak drumer band kami meninggal—karena kanker—sebulan yang lalu, sikap Aira berubah. Dia gampang panik, was-was, dan paranoid. Bahkan kini, saat kami sedang menunggu urutan manggung untuk mengisi acara musik di sebuah mal terkenal, Aira tampak gelisah. Berulang kali, dia kepergok bengong olehku. Sering juga, keringat dingin keluar di keningnya yang bersih.
Dia tak seperti Aira yang aku kenal. Dulu dia cerewet sekali, suka ngatur ini-itu, dan supel pada siapa pun. Kami sudah bersahabat lama. Sejak SMP, tepatnya. Kami mulai membentuk band yang beranggotakan tiga personil. Aku sebagai pianis, Aira sebagai vokal dan gitaris, serta Almarhum Nino sebagai drumer.
Saat akan mulai manggung, Aira lebih gugup dari biasanya. Padahal dia yang dulu adalah cewek yang energik dan percaya diri. Di panggung dia malah lebih parah. Suaranya terdengar cempreng seperti suara anak kecil dipencet hidungnya. Fales abis. Bahkan penampilan dan gaya panggungnya kacau balau. Membuat penonton kecewa berat.
Begitu dia turun dari panggung, manager yang menangani band kami mengajaknya bicara. Tampaknya Aira sakit. Ugh! Baru sekarang aku melihat dia seaneh ini. Manager kami kecewa berat pada Aira. Selain harus menahan malu karena merasa bersalah pada panitia acara dan penonton, dia juga menyesal karena tidak memperhatikan kondisi Aira.
Autum, nama band kami, seharusnya membawakan dua lagu untuk acara itu. Tapi kami baru mempertunjukkan satu lagu dengan penampilan terpayah sedunia. Aira, kamu kenapa sih? batinku bingung.
“Viq, kita pulang, yuk! Aku lagi nggak enak badan nih, pusing. Please, anterin aku pulang, ya!” pinta Aira tiba-tiba. Berbisik.
Tanpa pamit pada manager kami, dia segera menyeretku pergi dari tempat itu dengan tergesa-gesa. Keluar dari mal, kami segera men-stop taksi yang kebetulan singgah.
“Kenapa kita nggak naik mobil aja?”
“Kelamaan, Viqi.” jawabnya pendek. Dia sangat masygul. Seperti ada yang sedang memburunya.
“Ra, kamu nggak apa-apa, kan?” tanyaku perhatian, begitu taksi sudah menjauhi mal. Belum sempat Aira menjawab, tiba-tiba….
DUUUAAAAARRRR!!!!
Ledakan itu terdengar sangat keras setelah taksi yang kami tumpangi sampai di ujung jalan. Sopir taksi mengerem mobil dengan mendadak karena kaget. Spontan semua orang panik. Aku dan Aira segera keluar dari taksi. Semua orang berlarian keluar dari area mal—tempat kami manggung tadi. Di sana baru saja dibom. Kami berada di radius dua ratus meter dari tempat kejadian. Kaca taksi bagian belakang retak tertimpa benda yang terlempar. Syukurlah, kami tidak terluka sedikit pun. Taksi melindungi kami dari ledakan itu. Tapi bunyi ledakan tadi masih terngiang-ngiang keras di telingaku. Aira menangis, aku pun memeluknya.
Benarkah itu? Semua orang yang berlarian dengan tubuh penuh luka, serta berbagai kendaraan merongrong mengitari kami. Ini seperti mimpi.
* * *
Tiga minggu sejak tragedi meledaknya bom di mal termegah di kota kami, Aira jatuh sakit. Peristiwa itu membuatnya depresi berat. Kami berhenti manggung bahkan latihan band. Bukan hanya karena manager kami tewas karena bom itu. Tapi juga karena aku dan Aira sudah tak begitu bersemangat lagi nge-band sekarang.
Siang itu aku putuskan untuk menjenguk Aira di rumahnya. Dia tak pernah mau keluar rumah sejak kejadian itu. Rajin bolos kuliah, ke salon, nyanyi, jalan-jalan di mal, dan sebagainya. Seolah rumahnya terbuat dari beton anti-ledakan. Sehingga membuatnya yakin bahwa di situlah tempat teraman di dunia.
Setelah berbasa-basi sebentar dengan ibunya, beliau mengiringku ke kamar Aira. Kata ibunya, Aira sudah membaik. Meskipun begitu, Aira tidak mau diperiksa dokter yang dipanggil oleh ibunya. Dia masih paranoid dengan orang asing. Saat aku masuk ke kamarnya, Aira sedang membaca komik favoritnya. Seulas senyumnya menyambut kedatanganku.
“Apa kabar?” tanyaku basa-basi, setelah ibunya keluar dari ruangan.
Bukannya menjawab pertanyaanku dia malah menjawab, “Viq, anterin aku ke Rumah Sakit, yuk!”
Aku bingung sekaligus heran, “Sekarang?”
Dia mengangguk serius.
Lima belas menit kemudian kami sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Ibunya terkejut sekaligus bersyukur Aira mau diperiksa. Sayangnya, beliau tidak bisa ikut karena ada arisan di rumahnya.
Mobil yang aku kemudikan berhenti saat lampu merah menyala. Seorang wanita paruh baya dan balita kurus di gendongannya mengamen di samping kaca mobilku. Aira mengeluarkan uang dua puluh ribu rupiah, lalu menyerahkannya pada pengamen itu.
Aku menatapnya heran seolah berkata, bukankah itu berlebihan?
“Tidak apa-apa! Mereka lebih membutuhkan.” katanya, seolah bisa membaca pikiranku. Aku hanya menganggkat bahu, pasrah.
* * *
“Anda terkena anemia ringan. Tapi anda tidak boleh menganggap remeh penyakit ini. Banyak-banyak istirahat, makan makanan bergizi, dan olahraga yang cukup,” kata Dokter itu menasehati, setelah memeriksa Aira.
Dokter menuliskan resep obat dan kami segera menebusnya. Setelah menebus obat di apotek rumah sakit itu, Aira beranjak mengambil uang di ATM.
Aira berjalan menuju kotak amal yang terletak di samping lobi apotek, aku menemaninya. Dengan santai, dia berkata, “Tolong bantu aku untuk memasukkan semua uang ini ke dalam kotak ini, ya?”
Aku terkisap kaget. Nilai uang ini bukan hanya besar, tapi jumlahnya juga banyak. “Ka… kamu yakin?”
Dia mengangguk pasti. Seolah berlembar-lembar uang di tangannya itu adalah daun. Untung suasananya sepi. Apoteker itu juga tak memperdulikan keberadaan kami.
“Kamu yakin sumbangan ini bisa sampai ke tangan yang membutuhkan?” tanyaku hati-hati, takut melukai perasaannya. Ayolah, dia sedang menyumbangkan sejumlah uang lima puluh ribuan ke dalam kotak amal ini. Apakah itu aman?
Dia menghela napas pendek, “Aku nggak pernah seyakin ini, Viq!”
“Kenapa kamu melakukan ini? Tumben, maksudku?” tanyaku lagi, tanpa nada menyinggung sedikit pun. Maksudku, bagaimana bisa Aira yang (ku kenal) lebih sering mengabiskan uangnya untuk koleksi terbaru Shopie Martin, tega menyisihkan uangnya untuk beramal?
“Peristiwa bom itu membuatku sadar, Viq! Manusia takut mati karena dia belum lega. Aku pengin lega, Viq! Lega karena aku bisa berharga bagi orang lain. Selama ini aku berusaha mengibur diri sendiri bahwa aku bakal mati jika sudah tua nanti. Padahal kita bisa meninggal kapan aja! Kita semua dekat dengan ajal.” Aira menjelaskan dengan emosi yang tertahan.
Mendengar penjelasannya, aku jadi tertegun. Heran sekaligus takjub. Kenapa ini tak pernah terpikirkan olehku? Selama ini kami dapat honor yang lebih dari cukup setiap kali manggung. Tapi itu membuat kami terlena dan tak pernah menyisihkan sedikit pun untuk beramal.
“Aku setuju denganmu, Ra! Ketenaran telah membuat kita lupa. Makasih, kamu udah ngingetin aku.” Nada kesadaranku. Aku lirik kotak amal itu. Yayasan Amal Bangsa, sebagai distributornya, juga ada alamatnya. Yayasan amal untuk membantu anak yatim-piatu. Kantornya ada di jalan Basuki Rachmad, tak jauh dari rumah sakit ini. Ah, aku punya ide.
“Aira, maukah kamu menemaniku pergi ke tempat ini?”
* * *
“Terima kasih, Pak!” kata wanita berjilbab itu, seraya menyerahkan bukti tanda penerimaan. Dia adalah petugas bagian humas yayasan amal ini.
“Bapak bisa mengetahui laporan bulanan dari kami tentang nasib dana yang bapak sumbangkan melalui web kami dengan memasukkan nomor di bukti pembayaran ini,” katanya lagi, sembari menunjukkan nomor penerimaan. Aira yang duduk di sampingku, mengangguk pasti.
Sebenarnya aku tidak suka dipanggil “Bapak,” tapi terserahlah. Yang penting aku yakin dan tahu dana yang aku sumbangkan bisa sampai ke tangan penerima yang membutuhkan dan aman. Menurutku, sesungguhnya semua orang dermawan. Hanya saja, mereka butuh kejujuran dari yayasan amal tersebut. Karena sekarang masih banyak penipuan berkedok yayasan amal.
Keluar dari rumah sakit tadi, aku dan Aira pergi mengambil uang di ATM terdekat. Setelah itu, kami pergi ke yayasan amal ini. Alasan kami memilih uang tunai untuk di sumbangkan karena menurut kami: mudah. Juga menghindari penipuan kalau lewat rekening bank. Bisa saja ‘kan ada hacker yang membobol nomor rekening milik Yayasan itu. Selain itu, dengan menyerahkan dana cash, kita juga membantu mempermudahkan pengelola yayasan untuk mencairkan sumbangan itu.
Setelah keluar dari kantor yayasan tersebut, aku mendapatkan telepon dari management kami. Oom Yudha, pamannya Aira.
Setelah berbasa-basi, beliau berkata to the point, “Aku mengerti keadaan kalian. Tapi hidup harus tetap berjalan. Aku mendapatkan kabar dari sponsor. Mereka ingin mengadakan konser amal untuk para korban bom itu minggu depan.”
Beliau mengambil napasnya, aku diam menunggu. “Bagaimana menurut kalian? Kalian diundang bukan hanya sebagai bintang tamu, tapi juga penyemangat untuk para keluarga korban bom itu.”
Oke, semua orang tahu hal itu. Kami seolah bukti nyata manusia paling beruntung di dunia. Hanya delapan menit setelah kami keluar dari mal itu, bom meledak menewaskan puluhan orang. Ratusan orang terluka lahir-batin. Trauma berkepanjangan. Sedangkan aku dan Aira, sebagai korban yang selamat, menjadi korban sorotan media. Kami sudah depresi berat semakin galau menyaksikan berbagai reaksi dan liputan media yang semena-mena. Kami capek diwawancari mengenai peristiwa itu. Peristiwa itu membuat aku dan Aira memilih untuk diam di rumah. Aku memutuskan untuk memenangkan diri di kota Bogor, sedangkan Aira di Semarang.
Mereka pikir menjadi korban dari peristiwa mengerikan itu enak. Bisa terkenal, diwawancarinya, dan dapat simpati. Orang-orang itu salah besar. Peristiwa itu seolah terekam sepanjang masa dalam memori kami. Otak kami seolah otomatis memainkan video peristiwa itu, membuat kami semakin kalut dan terluka. Aku bahkan sempat berpikir lebih baik aku jadi korban yang tewas saja. Sudah tak perlu dikejar-kejar kematian lagi. Tapi aku yakin Tuhan punya rencana. Dan aku sedang menunggu rencana-Nya selanjutnya untuk kami.
Bahkan polisi sempat mencurigai kami. Tapi setelah dilakukan introgasi yang melelahkan dan pamanku—seorang perwira polisi yang disegani—berani menjamin bahwa kami bukan pelaku teror. Kami keluar dari mal waktu kejadian itu murni karena firasat Aira.
“Bagaimana, Viq?” suara Oom Yudha menghancurkan lamunanku. “Tapi kalau kalian tidak setuju, Oom akan berbicara dengan sponsor?”
“Saya akan membicarakannya dengan Aira dulu, Oom? Nanti saya telpon lagi.”
Aku menjelaskan pada Aira tentang konser amal tersebut. Reaksinya sungguh di luar dugaanku, dia antusias sekali. Tapi dia tetap menyerahkan semua keputusan itu padaku. Jadi aku putuskan untuk menelpon Oom Yudha dan bilang, “Baiklah, Oom. Kapan persiapannya?”
* * *
Konser amal itu berlangsung harmonis namun tetap menghibur. Konser itu diadakan di halaman tennis out door dekat mal tersebut. Banyak sekali pengunjung dan penonton hadir serta memberikan sumbangannya untuk para korban bencana. Polisi menjaga di semua kawasan sekitar mal dengan amat sangat ketat. Tapi syukurlah, tidak ada ancaman bom atau peristiwa yang mencurigakan.
Padahal minggu-minggu setelah bom itu meletus adalah minggu paling mencekam sedunia. Teror bom dilontarkan oleh orang-orang yang tak bertanggung jawab. Orang yang selalu dan selalu mengganggap dirinya paling benar. Mengebom untuk membela kebenaran serta mengatasnamakan agama. Padahal jelas sekali mereka juga membunuh saudara sendiri.
Peristiwa pemakaman manager kami—beserta korban-korban yang lain—membekas di benakku yang terdalam. Aira pingsan saat menghadirinya. Ia tak hentinya menyalahkan diri sendiri karena tidak mengajak manager kami keluar mal. Tak kuasa menahan emosi.
Mbak Vella, manager kami, adalah wanita yang baik, nggak neko-neko, namun tegas dan disiplin. Lebih mengerikan lagi, dia sebenarnya akan menikah tahun depan. Calon suaminya yang bekerja di Singapura itu syok berat saat pemakamannya. Tanpa sadar, air mataku mencair.
“…. Mari kita doakan, semoga arwah mereka, para korban bom, diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa. Dan bagi para keluarga yang ditinggalkan, diberi kekuatan dan ketabahan. Amin.” MC berparas anggun itu berbicara di panggung konser. Setelah itu, Autum tampil sebagai penutup acara.
Yang paling membuatku terkejut adalah semangat Aira. Dia benar-benar menjiwai lagu yang dinyanyikannya. Aku jadi malu dibuatnya. Tanpa pikir panjang, dengan penuh semangat aku memainkan keyboard-ku. Melodi-melodi itu menyentuh hati penonton, membangkitkan semangat.
Aku bahagia akhir-akhir ini dia sudah kembali jadi dirinya sendiri. Mungkin benar katanya. Kematian bukan untuk ditakuti, tapi untuk dihadapi. Jujur, aku masih takut mati. Gila, aku kan masih sembilan belas tahun! Tapi setidaknya aku sudah mempersiapkan semuanya. Yaitu dengan berguna untuk orang lain semampuku, lewat musik-musik yang ku mainkan.
* * *
(10 Besar Cerpen Terpilih dalam Lomba Cerpen se-Jatim oleh MP3 FIP UM tgl. 02 April 2011 di Aula Perpustakaan UM)
