
Ilustrasi ‘Lena’ karya Pratiwi P. (2014)
Rasanya pengin deh Lena ngelemparin semua kursi yang ada di kantin ini ke tubuh Bianca. Kenapa sih kakaknya yang centil itu selalu (dan selaluuu aja) gangguin pedekatenya sama Valeno? Apa perlu meja kantin ini sekalian digebukin ke tubuh Bianca biar jadi gepeng kayak ikan teri (Idiiih, sadis amat). Biarin, habis nyebelin banget sih!
Kayak nggak ada cowok keren lain aja buat dijadiin gebetan. Apalagi Bianca itu kan salah satu cewek populer di sekolah. Hampir semua cowok pasti kesengsem sama kakak Lena itu. Padahal mereka itu saudara kembar lho! Cuma beda 6 menit waktu dilahirkan. Tapi kenapa sih dia masih aja deketin Val? Padahal Bianca itu tahu, Lena itu cinta mati sama Val, sang ketua klub seni rupa itu.
Dengan muka cemberut Lena melotot geram ke arah Bi (Sapaan Bianca) yang sedang berusaha merebut perhatian Val.
“Val, kamu suka jajan lumpia, ya?” tanya Bi sok tertarik.
“Iya. Kenapa emang?” jawab Val. Datar sih, tapi dalem banget.
Skak matt! Bi jadi gelepapan sampai pengin motong lidahnya sendiri gara-gara bikin Val agak tersinggung. Lena jadi cekikian geli dalam hati.
“Nggak kok. Aku juga suka lumpia.” elaknya sambil tersipu-sipu jijay. Bahkan semut pun bakal mati kalo ngelihat Bi tersipu-sipu. Hih!
Bel tanda istirahat berakhir berkicau dengan hebohnya! Val terpaksa kembali ke kelasnya. Sedangkan dengan perasaan miris, Lena berderap-derap menuju ke kelasnya.
“Len, nanti ada ulangan Kimia? Sontekin aku, ya!” pinta Bianca agak memaksa, setelah mereka berdua sampai di kelas.
Oh, ya tuhan! Baru saja mengacaukan acara pedekate Lena yang sudah Lena rancang berhari-hari, kini dengan enaknya Bianca minta disontekin ulangan Kimia. Tentu aja jawaban saja.
“Ya.”
“Trims, ya!”
“Maksudku, itu ya deritamu. Ya salahmu sendiri nggak belajar semalam. Sebagai hadiahnya, aku nggak mau ngasih kamu sontekan, kakakku yang ganjen.” ledek Lena tanpa dosa, yang membuat Bianca mencak-mencak kayak orang kebakaran rambut. Hehe!
* * *
Ini mimpi. Finally, the dreams comes true!
“Iya, Len. Keluarga Val mau makan malam di rumah kita pas hari valentine minggu depan. Papa yang mengundang Papa Val karena mereka udah berteman lama,” jelas Mama. Mata Lena berkilau-kilau bahagia. Itu artinya dia bisa makin dekat sama Val seandainya nggak ada…
“Horeee!!” tuh kan cinderela ber-IQ setengah itu akhirnya juga tahu. Bianca, tak bisakah kau berhenti mengganggu hidup Lena? Bayangin aja! Bertahun-tahun Lena itu hidup di belakang bayang-bayang Bianca. Bianca yang cantik dan digandrungi banyak cowok. Sedangkan Lena, tetaplah, Lena yang agak tomboy tapi cerdas. Tapi siapa sih yang mau melirikmu kalau kamu punya kakak secantik Cinta Laura masuk dalam hidupmu yang mengerikan? batin Lena.
“Memangnya Mama mau masak apa?” tanya Lena, tanpa memperdulikan Bianca yang sedang bermambo chacha seperti orang gila karena kegirangan.
“Ayam panggang mungkin. Tapi mama pengin bikin lumpia juga. Soalnya keluarga Val itu kan doyan banget makan lumpia.” jelas Mama.
“Biar Lena aja, Ma, yang bikin lumpianya.” celetuk Lena tiba-tiba.
Dweng!!! Saat itu juga dunia seakan berhenti berputar. Mama melongo dan Bianca nyaris semaput saking kagetnya. Lena bilang dia mau masak lumpia. Nggak salah tuh! Bukannya Lena itu alergi sama dapur dan nggak bisa masak.
Kontan Bi dan Mama tertawa terbahak-bahak seolah Lena itu badut sirkus.
“Emangnya kamu bisa masak, Len?” seloroh Bi menghina.
“Bisa.” bantahnya. “Akan aku buktiin!” tegas Lena.
“Jangan paksain diri, Len. Terakhir kali kau memasak di dapur,”—Mama memberi penekanan pada kata dapur—”Dapur kita berantakan seperti habis terserang putting beliung. Kacau balau.” kata Mama, lalu nyengir.
“Lena pasti bisa, Ma.”
“Bisa bikin dapur kebakaran, maksudmu.” sela Bi, lalu tertawa keras-keras. Sampai Lena berharap Bi bakal tersedak dan kehilangan kotak tertawanya (Aduh, kok malah mirip film Spongebob gini, ya?).
“Emangnya kakak bisa bikin lumpia?” tantang Lena.
“Menghina sekali dikau.” kata Bi. “Memang setiap hari yang bantuin mama masak yang enak-enak itu siapa, non?”
Lena mati kutu. Tapi dia harus buktiin, kalo dia itu bisa masak. Maju terus, pantang nyerah.
* * *
Ada dua hal yang paling menyebalkan di dunia ini:
- Kakakmu yang sombong dan nyebelin itu jago masak
- Kamu nggak bisa masak di saat cowok charming yang kamu taksir bakal makan malam di rumahmu
Duh! Lena beneran frustasi, apalagi Mama sepertinya ogah ngajarin Lena masak. Alasannya: sibuk!
“Nggak bisa, Len! Mama hari ini ada acara sama ibu-ibu PKK, sosialisasi soal masalah gizi buruk ke desa-desa.” Gini nih kalo Mamamu sedang berinvestasi buat jadi istri Bupati. Papa Lena itu sedang genjar-genjarnya mencalonkan diri untuk jadi Bupati tahun depan. Acara-acaranya bakti soasial melulu, biar bisa menarik hati rakyat gitu.
“Kalo kamu emang serius ingin belajar bikin lumpia. Minta diajarin Bi Iyah aja! Itu tuh pemilik warung gorengan yang ada di pojok kompleks kita.” saran Mama sambil mengoreksi tatanan jilbabnya di kaca spion mobil.
“Semoga berhasil, ya, sayang! Daadaah!” kata Mama, lalu menutup pintu mobil.
Setengah jam kemudian Lena sampai di warung Bi Iyah. Tipikal warung yang sederhana tapi bersih dan nyaman.
“Eh, ada Non Lena. Mau beli apa, Non?” Bi Iyah menyambut Lena dengan ramah. Keluarga Lena emang cukup terkenal di kompleks Permai Abadi ini. Maklum Papanya anggota DPR. Jadi nggak salah kalo Bi Iyah kenal sama Lena.
“Bi Iyah, saya mau minta tolong, Bi!”
“Minta tolong apa, Non?” Bi Iyah ingin tahu.
Lena memperhatikan lumpia gorang yang terusun rapi di rak kue. “Saya mau minta diajarin bikin lumpia, Bi Iyah.” kata Lena gugup. “Nanti bahan-bahannya biar Lena aja yang beli. Nanti Lena beli deh semua gorengan Bibi kalo Bi Iyah mau ngajarin Lena. Mau, ya, Bi?” jelasnya, agak memaksa.
“Boleh kok, Non! Ndak pa-pa.” jawab Bi Iyah kalem. “Bibi juga seneng bisa ngajarin Non Lena.”
“Makasih, ya, Bi Iyah!”
***
“Suami Bi Iyah sakit apa?” tanya Lena saat masuk ke dapur Bi Iyah yang—meski pun cuma berlantai semen tapi tetap bersih dan terawat. Lena benar-benar nggak salah pilih tempat buat belajar masak. Sudah tiga hari Lena belajar masak di sini, tapi dia heran juga sejak datang ke sini suami Bi Iyah sakitnya nggak sembuh-sembuh.
“TBC, Non! Ndak tahu kenapa belum sembuh juga. Padahal udah bibi bawa ke puskesmas.” jelas Bi Iyah dengan wajah sedih.
Lena mencoba bersimpati. Tapi Bi Iyah segera bersiap-siap mengajarinya bikin lumpia. Lena kudu konsen dong!
“Bi Iyah, kalo bikin kulitnya pake tepung bisa lama. Jadi Lena beli kulit lumpia yang udah jadi aja, Bi! Gimana? Biar cepat gitu masaknya.” jelas Lena sambil mengeluarkan sebungkus kulit lumpia siap pakai yang kemarin dia beli di supermarket. Saran mama sih sebenarnya.
“Ooo, ndak pa-pa kok, Non.” Tuh kan Bi Iyah emang pengertian banget.
Lena ingat pengalamannya tiga hari berurut-turut membuat kulit lumpia. Ternyata susahnya minta ampun! Apalagi bagi Lena yang masih awam dengan dunia masak-memasak.
Lena sudah mempelajari resep Lumpia andalan Bi Iyah. Pertama kali mencoba lumpia bikinan Bi Iyah, Lena langsung jatuh cinta. Trus kemarin Lena bawa lumpia ke sekolah buat Val. Ternyata Val suka banget. Lena makin bersemangat belajar bikin Lumpia sama Bi Iyah.
Lena memanaskan minyak, lalu menumis bawang putih yang sudah dicincang. Setelah aromanya keluar, barulah Lena memasukkan bahan-bahan yang lain seperti rebung, udang, dan ayam. Resepnya rahasia dong! Harus berguru langsung sama Bi Iyah kalo mau tahu. Hehe.
Setelah lumpianya jadi, Lena mencicipinya sedikit. Rasanya lumayan. Bi Iyah turut mencoba. “Gimana, Bi?” Lena minta komentar.
“Sepertinya kurang garam sama merica. Kalau udah sering berlatih, Non Lena pasti bisa.” Bi Iyah itu orangnya jujur. Jadi Lena sama sekali nggak tersinggung.
“Iya, Bi. Lena akan berusaha.” kata Lena optimis.
***
Akhirnya hari menegangkan itu tiba! Bianca sudah siap dengan lumpia bikinannya. Dengan sombongnya dia memamerkan lumpia Semarang spesial yang resepnya dia dapat dari buku masakan. Sedangkan Lena masih sibuk di depan penggorengan, menggoreng lumpia cintanya, jalan menuju asmara Val. Haha! Oia, makan malam ini bertepatan dengan hari Valentine. Bukannya keluarganya Lena atau Val itu biasa merayakan Valentine. Hanya saja acara itu jatuh di hari valentine, itu aja.
Makan malam kurang satu setengah jam lagi. Lena tiba-tiba berinisiatif untuk ngasih Bi Iyah hasil karyanya ini. Dengan naik skutermatik kesayangannya Lena menuju ke rumah Bi Iyah.
Sesampainya di sana Lena kaget karena Bi Iyah sedang panik mengobati suaminya. Penyakit suami Bi Iyah kumat lagi.
“Tapi, Non, Bi Iyah ndak punya uang. “ jawab Bi Iyah saat Lena berniat membawa suami Bi Iyah ke rumah sakit.
“Lumpia Bi Iyah masih ada kan? Nanti Lena bantu jual di rumah sakit. Lena juga akan memnjual lumpia Lena ini untuk biaya suami Bibi.” bujuk Lena.
Setengah jam kemudian mereka sampai di rumah sakit setelah Lena menelpon ambulance. Lena membantu Bi Iyah mengurusi administrasi sementara suami Bi Iyah sedang ditangani dokter.
Syukurlah, malam itu suasana rumah sakit ramai. Banyak pembesuk yang kelaparan. Dalam sekejap lumpia yang Lena jajakan laris manis.
“Bi Iyah, Alhamdulillah, hasilnya lumayan buat nebus obat suami Bibi.” kata Lena penuh syukur.
Ponsel Lena tiba-tiba berdering. Mama.
“Halo, Ma!”
“Len, sekarang kamu ada dimana? Keluarga Val sudah datang nih?”
“Ada di rumah sakit, Ma. Bi Iyah suaminya sakit. Lena nganterin ke sini. Maaf. Bilang aja Lena nggak bisa datang…,”
* * *
“Nggak nyesel kamu semalam nggak pulang?” tanya Bianca di kantin saat Lena menyesap cappucino hangatnya untuk mengusir rasa kantuk pagi itu.
“Nggak lah. Makan malam kan bisa kapan aja?” jawab Lena enteng.
“Tahu nggak, Len! Semalem, kamu jadi bahan pembicaraan sama keluarganya Val. Mereka ternyata mereka suka banget lumpia bikinan kamu. Sayang aja kamu nggak ada di sana. Mereka muji-muji kamu. Rencananya minggu depan mereka bakal datang lagi supaya bisa ketemu kamu.” jelas Bianca yang langsung membuat mata Lena berbinar-binar bahagia.
“Beneran, Kak?”
“Iya, Mama juga nyeritain kamu nggak bisa datang karena nolongin Bi Iyah yang suaminya sakit itu. Mereka kagum banget sama kamu. Pagi ini rencananya mama mau nengok Bi Iyah, sekaligus mau ngelunasin biaya pengobatan suami Bi Iyah itu.”
“Kok kakak bisa tahu sih?”
“Mama yang cerita. Beliau mau ngasih sumbangan ke Bi Iyah karena Bi Iyah berhasil ngajarin kamu memasak.” Bianca menjelaskan.
Dari ujung kantin mereka melihat Val berjalan menuju ke arah mereka. Sepintas Bianca berbisik ke telinga Lena. “Val sedang menuju kemari. Jangan kecewain dia. Kakak nggak bakal ganggu hubungan kalian lagi. Have fun, ya!”
“Kenapa, kak?” tanya Lena heran. Kok kakaknya berubah secapat ini, ya?
“Soalnya kakak udah punya kecengan baru lagi, Sayang.” kata Bianca kemudian beranjak pergi sambil nyengir kuda ke arah Lena.
Huh! Dasar playgirl! batin Lena. Wajahnya merona menyambut kedatangan Val yang tersenyum manis ke arahnya.
* * *
(dimuat Prestasi Jatim edisi April 2010)
