Malang)
menggunakan bahasa yang lebih populer, tema cerita yang dekat dengan kehidupan
sehari-hari, pemikiran yang ringan, humoris, romantis, jalinan cerita yang
mudah dipahami dan alur yang sederhana. Sastra populer bukan genre baru karena
sudah muncul sejak awal abad 21 ketika novel Bridget Jones Diary meledak di pasar sastra Inggris dan sukses
besar saat difilmkan. Setelah itu mulai bermunculan sastra populer dengan
aliran sesuai target umur pembaca teenlit
(remaja), mainstream romance (dewasa
awal), metropop dan chicklit (lajang dan bujang). Seperti
kebudayaan pop lain, sastra populer juga digemari di Indonesia. Malang termasuk
kota asal dan domisili para penulis sastra populer yang meramaikan khazanah
sastra Indonesia.
![]() |
| Arum & Tyas Effendi |
Mayoritas penulis sastra populer
ialah kaum muda yang masih kuliah atau bahkan lajang yang baru memasuki dunia
kerja. Novelis sastra populer antara lain Tyas Effendi dan Arum Effendi. Kembar
bersaudara ini cukup produktif menerbitkan novel sastra populer. Novel Tyas Effendi
antara lain: Catatan Musim dan Dance for Two. Arum Effendi juga pernah
masuk kategori lomba novel romantis terbaik dan diterbitkan dengan judul Kisah Langit.
![]() |
| Tika Amalia |
Ada juga Tika Amalia yang
masuk lima terbaik lomba novel drama dan diterbitkan dengan judul Only You.
Widya Rosanti juga konsisten
menerbitkan novel teenlit berjudul Curhat Cewek Gemuk dan Terobsesi Padamu.
Penulis sastra populer juga ditekuni
oleh kaum adam. Indra Widjaya ialah spesialis personal literatur yang telah menerbitkan novel Idol Gagal dan Tulang Rusuk Susu. Chilmi Muhammad juga pernah menerbitkan novel
komedi berjudul Gilakopedia.
![]() |
| Gogor S., Penulis It’s Hurt |
Baru-baru
ini juga muncul Gogor Subiyakto juga menulis novel romantis berjudul It’s Hurt. Dari segi cerpen teenlit, ada Fahrul Khakim yang telah
menerbitkan buku kumpulan cerpen Cowokku
Vegetarimood. Buku tersebut berisi cerpen-cerpennya yang telah dimuat di
berbagai majalah remaja Indonesia seperti: KaWanku,
Hai, Gaul, dan lain sebagainya.
genre sastra populer yang telah diterbitkan itu dapat menjadi indikator
kekayaan sastra populer di Malang raya. Apalagi semua karya tersebut di atas
telah diterbitkan oleh penerbit mayor yaitu penerbit nasional yang telah
melakukan seleksi ketat dalam menerbitkan buku. Setiap karya memang memiliki pembaca
masing-masing sehingga selayaknya mendapat apresiasi. Bagaimana pun bentuk
sastra populer sepatutnya tetap mendapatkan tempat untuk melengkapi peta sastra
di Malang raya.
Radar Malang: Minggu, 25 Januari 2015








2 Comments. Leave new
Di antara mereka yang disebutkan kenal dengan Tyas, Arum, Chilmi, dan Widya sekadar teman fesbuk aja, yang lain baru tahu dari tulisanmu, Rul. Keren! 🙂
Esai ini masih belum mendalam sebenarnya. Aku juga pengen sastrawan populer di Malang juga ikut diangkat dan sejajar dengan sastrawan lainnya. Mereka juga membawa nama Malang dalam berkarya. Syukron, Mas Rosyid. 🙂