
Ilustrasi ‘Reina’ karya Pratiwi P. (2014)
Cintaku bukanlah cinta biasa
Jika kamu yang memiliki….
Dan kamu yang temaniku…
Seumur hidupku…
Jangan tanya apa yang bikin Andre bete banget sama sahabatnya, Reina Dewi. Nggak di rumah, nggak di sekolah, maupun di kafe tempat mereka makan siang sekarang. Reina tetap aja nggak bosan-bosannya menyanyikan lagu Bukan Cinta Biasa, yang dinyanyikan oleh penyanyi kesayangannya, Afgan.
“Stop! Stop!” kata Andre kesal. “Kita jadi makan nggak?”
Reina diam dan berhenti menyanyi. Baru sadar dia kalo dari tadi suara cemprengnya bikin pengunjung lain di kafe ini sakit telinga.
“Makanannya udah datang ya! Yuk, makan!” ajak Reina mengalihkan pembicaraan.
Reina tersenyum hangat sedangkan Andre mendengus kesal.
“Band kamu, apa kabarnya?” tanya Reina lembut. Andre paling senang kalo membicarakan bandnya yang nggak jelas juntrungannya itu.
“Baik. Malah kemarin kami habis nyiptain lagu baru.” kata Andre semangat. Syukurlah kekesalannya tadi bisa teratasi. Kalo nggak. Waaah, bisa gawat. Andre mulai bercerita tentang kegiatan bandnya dan jadwal manggungnya yang nggak jelas itu.
Setelah makan siang, mereka jalan-jalan di mal. Saat berjalan di depan toko kaset. Reina senang banget ternyata ada album terbaru Afgan dipajang diestalase. Ternyata toko kaset itu baru buka dan banyak pembeli lain yang akan membeli kaset itu.
Tanpa pikir panjang Reina segera masuk ke toko kaset meninggalkan Andre di luar toko sendirian.
“Eh, Reina, mau kemana? Tunggu!” kata Andre kaget. Reina tak menggubris. Dengan kesal Andre ikut masuk ke toko itu.
Oh, kasetnya tinggal dikit. Ternyata kasetnya laris dan tinggal beberapa buah. Dengan gesit Reina berdesak-desakan dengan pembeli yang lain.
Hap! Dapat kaset Afgan terakhir yang ada di toko ini. Tapi ternyata ada cewek lain yang mau membeli kaset itu.
“Ini punyaku. Aku yang duluan ngambil kaset ini.” kata Reina tajam. Dia nggak mau kaset ini jatuh ke tangan orang lain.
“Apa-apaan sih? Ini punyaku. Aku yang pertama kali datang.” kata cewek berambut lurus itu nggak mau kalah.
“Punyaku. Siapa cepat, dia yang dapat!” kata Reina nyolot.
Saking nyolotnya Reina, cewek berambut lurus itu sampai jatuh terjungkal akibat di dorong Reina. Reina emang bisa jadi ganas kalo ada yang menghalangi keinginannya.
Keributan itu ternyata menarik pembeli lainnya untuk menonton. Andre ada di belakang Reina.
Cewek berrambut lurus itu nggak terima. Dia bangkit dan menatap Reina menantang. Reina tak mau kalah. Tanpa diduga cewek berambut lurus itu mengangkat tangannya dan bersiap menampar Reina. Reina sadar akhirnya mengelak, tapi tamparan itu malah nyasar ke arah cowok di belakang Reina.
Plaaak! Cowok itu meringis. Cewek berambut lurus itu kaget ternyata sasarannya meleset. Semua orang menoleh ke arah cowok malang korban tamparan “maut” itu.
“Andre!” kata Reina lirih.
Gara-gara keributan di toko kaset itu, Andre harus membayar denda keamanan. Sebenarnya yang harus membayar denda adalah Reina, karena dia biang keroknya. Tapi dia ngotot nggak mau bayar dan bikin ribut lagi. Daripada makin runyam masalahnya. Lebih baik Andre mengalah. Syukurlah kasetnya jatuh ke tangan Reina. Kalo nggak! Nggak tahu deh, bencana apalagi yang akan menimpa Andre.
“Oh, sweety! You’re the best deh, pokoknya! Kamu emang sahabat aku yang paling top kayak oli Top One!” puji Reina senang pada akhirnya. Andre mengelus-elus pipinya yang masih nyut-nyutan.
* * *
Reina memang penggemar berat Afgan. Dari tas, buku, kaos, sampai dompet semua harus ada unsur Afgannya. Kamarnya yang dicat kuning, dia hias dengan aneka poster Afgan segala ukuran.
Kaset Afgan dia punya lengkap. Dia paling suka mendengarkan lagu Afgan sambil menyanyikannya. Meskipun suara cempreng dan bikin orang pingsan kalo dengar dia nyanyi. Reina tetap pede. Reina nge-fans berat sama Afgan karena dia mirip kakaknya yang udah meninggal. Kakaknya memang berkacamata dan punya lesung pipi, tapi sayang Regi—Kakak Reina—benci musik dan nggak bisa nyanyi. Reina anak bungsu, jadi setelah kakaknya meninggal karena talasemia, dia jadi anak tunggal.
Sekarang Reina mau menunjukkan kaset Afgan terbaru pada Dara, sahabat kentalnya.
“Aku baru beli kemarin lho!” kata Reina bangga setelah memberikan kaset itu pada Dara. Dara emang suka lagunya Afgan, tapi dia bukan penggemar beratnya Afgan.
Ding dong bell! Bel tanda istirahat berakhir memekik kencang. Dari kantin, Reina dan Dara segera berjalan menuju ke kelasnya. Saat berjalan di koridor kelas, Dara tidak sengaja menjatuhkan kaset kesayangan Reina. Kaset itu jatuh terlempar karena waktu itu Dara dan Reina tergesa-gesa.
Dara kaget dan berusaha meraih kaset itu. Tapi terlambat. Karena tiba-tiba ada seseorang yang menginjak kaset itu sampai remuk.
Kretek! Kaset itu pecah berantakan. Cowok itu ternyata Andre yang juga berjalan buru-buru menuju kelasnya. Reina mau marah dan menangis. Emosinya campur aduk!
Andre memungut kaset itu. Reina marah dan pergi dari situ. Dara dan Andre mencoba mengejarnya tapi terlambat. Andre tampak menyesal.
Sepulang sekolah Andre dan Dara berusaha membujuk Reina. Tapi Reina tetap keki.
“Reina, dengerin penjelasan kami dulu dong!” kata Dara sabar.
Reina merengut kesal. Andre menahannya lalu mengajaknya duduk di bangku panjang di koridor kelas.
“Na, kami bakal ganti kok!” rajuk Andre. Reina tetap keki dan cemberut kayak muka babi dipencet. Dara dan Andre kehabisan akal buat bujuk Reina.
“Kalian tahu nggak!? Itu kaset limited edition. Langka banget soalnya ada tanda tangan asli Afgan. Terus ada bonus track-nya. Sekarang sudah rusak.” ujar Reina sedih. Matanya memanas.
Dara dan Andre bertatapan menyesal.
“Aku tahu kok, sebenarnya kalian nggak suka ‘kan sama Afgan. Kalian pura-pura suka sama Afgan supaya aku nggak dibilang Afganisme sinting sama teman-teman yang lain.” kata Reina sedih.
“Kalian diam-diam sering menjelek-jelekkan hobiku dan kesukaanku sama Afgan. Kalian dekat sama aku supaya dapat perhatian sama guru-guru ‘kan! Karena aku anak kepala sekolah.” lanjutnya.
“Nggak, Na. Itu semua nggak benar. Darimana kamu dapat omongan kayak gitu.” kata Dara berkilah. Sebagian ucapan Reina memang benar. Tapi itu dulu. Sekarang Dara nggak bermaksud sedikit pun bikin Reina sedih.
“Udahlah, Ra. Reina bener! Tapi itu dulu, Na. Itu karena dulu kami belum kenal dekat sama kamu. Tapi sekarang kami nggak gitu. Kami sayang sama kamu.” kata Andre menyesal.
“Tapi kenapa kalian sering merusak barang-barang kesayanganku. Bulan lalu Dara menghilangkan poster Afgan favoritku. Dua pekan lalu, kamu, Andre menghilangkan kaos Afganisme yang aku titipkan ke kamu biar dikecilkan penjahit tetanggamu. Apa ini semua cuma kebetulan?” kata Reina tajam. Air matanya meluncur.
“Oke, Na. Kami sebenarnya emang nggak suka Afgan. Eneg banget, malah. Tapi, please! Maafin kami ya!” kata Dara akhirnya.
“Kalian tega! Aku benci sama kalian.” Reina berdiri dengan amarah meluap-luap. Kemudian dia lari meninggalkan Andre dan Dara.
“Na, tunggu!” teriak Andre dan Dara bareng.
Reina tak mengubris. Dia sedih banget kenapa orang yang sangat disayanginya tega melakukan hal itu.
* * *
Sebulan berlalu sejak pertengkaran Reina, Andre, dan Dara. Reina memutuskan untuk menyendiri serta menjauhi Andre dan Dara. Meskipun Andre dan Dara sudah minta maaf dengan berbagai cara padanya.
Reina tetap keki dan menghindari Andre dan Dara. Padahal mereka sering bertemu di koridor kelas, perpustakaan, dan di kantin. Tapi Reina tetap mengacuhkan mereka sama sekali, dia terlanjur marah.
Tapi ternyata musuhan sama Andre dan Dara nggak enak juga. Apalagi Reina sudah terlanjur care dan sayang banget sama mereka. Hari-hari Reina jadi sepi dan membosankan.
“Huh! Bosen juga dengerin lagu ini terus.” desis Reina sambil meletakkan walkman-nya. Mematikan lagu kesayangannya lalu mulai intropeksi diri.
Apa aku terlalu egois, ya? Tapi mereka juga keterlaluan banget sih! Ah, ngapain juga musuhan sama mereka cuma gara-gara kaset. Toh, aku masih bisa beli lagi.
Reina sebenarnya mau minta maaf langsung. Tapi nggak enak! Apalagi sekarang musim liburan sekolah. Belum tentu juga mereka sekarang di rumah. Dara dan Andre itu sepupuan. Lebih baik Reina telpon mereka aja dulu.
Reina mencoba menelpon Andre, ternyata nomornya nggak aktif. Nelpon Dara malah salah sambung, terus mail box! Telpon ke rumah Andre, dia nggak ada di rumah. Kata pembantunya dia sedang liburan ke Jakarta. Dara juga.
Jangan-jangan mereka udah nggak mau maafin aku dan nggak mau temenan sama aku lagi. Ya Allah, semoga firasatku ini salah. batin Reina khawatir. Pokoknya masuk sekolah nanti Reina harus minta maaf sama mereka.
* * *
Liburan sekolah yang dilalui Reinda dalam kesepian dan kenjenuhan telah berakhir. Sekolah sudah masuk seperti biasa. Tapi sekarang Reina malah ragu mau minta maaf sama Andre dan Dara. Dia terlalu gensi.
Karena bingung mencari solusi yang tepat. Siang itu juga Reina pergi ke ruang BK untuk menemui Bu Amalia, guru bimbingan konseling.
Syukurlah Bu Amalia ada waktu untuk Reina. Setelah berbasa-basi sebentar, Reina mencurahkan semua masalahnya. Obsesinya pada Afgan yang diatas normal, serta keegoisannya sehingga membuat persahabatannya dengan Andre dan Dara berantakan.
“Reina, dalam bersahabat itu kita tidak boleh memaksakan kehendak kita pada orang lain. Itu melanggar hak asasi. Jika kita menyukai sesuatu, itu hak kita. Dan orang harus menghargainya. Begitu juga sebaliknya. Jadi minta maaflah pada mereka. Semua belum terlambat. Bu Amal yakin. Mereka pasti mau memaafkanmu.” jelas Bu Amalia lembut.
Reina sadar setelah itu dia mengucapkan terima kasih berulang kali kemudian pamit pada Bu Amalia untuk menemui Andre dan Dara.
Pas keluar dari ruang BK Reina terkejut karena Andre dan Dara ada di situ.
“Hai, Na! Kata teman sekelas, kamu ada di ruang BK. Kami mau bicara sama kamu!” kata Andre canggung.
“Aku juga mau bicara sama kalian.” Reni tersenyum ramah. “Kita duduk, yuk!”
Lalu mereka duduk di bangku panjang di depan ruang BK.
“Ndre, Ra! Aku mau minta maaf sama kalian. Ternyata selama ini aku yang salah. Aku terlalu egois dan memaksakan kehendak. Maafin aku, ya!?” pinta Reina tulus.
“Udahlah, Na! Kami juga udah maafin kamu kok. Selama ini kami sering bohong sama kamu. Maafin kami juga, ya?” kata Dara ramah.
“Makasih ya!” Reina tersenyum manis.
Andre dan Dara mengangguk, lalu menyerahkan sebuah bingkisan cantik untuk Reina.
“Ini apa?” tanya Reina heran.
“Udah, buka aja! Itu spesial buat kamu.” jawab Andre.
Reina membuka kadonya. Dia sungguh terkejut, ternyata isi kado itu adalah kaset Afgan asli plus tanda tangan serta memoar kecil dari sang idola. Reina mengangis haru. Tak henti-hentinya dia mengucapkan terima kasih pada Andre dan Dara. Lalu Andre menjelaskan bagaimana mereka bisa mendapatkan hadiah itu,
“Waktu kami liburan di Jakarta, kami jalan-jalan ke MTA—Mal Taman Anggrek. Ternyata di sana ada meet and greet-nya Afgan. Terus kami minta tanda tangan dan foto sama dia. Kami juga ceritain soal kamu lho! Makanya dia kasih memoar kecil ini spesial untukmu.”
Reina bahagia banget hari ini. Ternyata sahabatnya benar-benar pengertian. Reina sadar bahwa obsesi yang terlalu berlebihan itu nggak baik. Reina bersyukur memiliki sahabat terbaik seperti Andre dan Dara.
* * *
(dimuat Blantika edisi ke-25 Juni 2009)
